Gaya HidupKomunitas

4 Hal Yang Membuat Grace May, Juara Goat Run Mt Slamet 2018, Betah Di Indonesia

INFOCRBCOM- Meski Got Run Trail Running Race Series Gunung Slamet telah usai, akan tetapi masih meninggalkan kesan yang mendalam bagi para peserta maupun pendukung dalam kegiatan tersebut. Terlebih untuk Grace May, penyabet gelar juara yang berdiri di podium posisi pertama pemenang Goat Run Mt Slamet kategori 20k Female. Dengan pencapaian waktu tempuh 6 jam 28 menit 41 detik, Perempuan berkebangsaan Australia itu berhasil menjejal Gunung Slamet dan meninggalkan Laura Walter pelari asal Prancis di Posisi kedua, serta Nina Ananta Ginting yang berasal dari Indonesia di posisi ketiga.

Meski tak di negaranya sendiri, namun Grace memang sudah cukup akrab dengan kondisi pegunungan Indonesia. Pasalnya Grace telah tinggal di Indonesia kurang lebih selama 5 tahun. Grace yang memutuskan setuju untuk pindah ke Indonesia ini justru mengaku betah tinggal di Indonesia. Ia pun memarkan hal-hal ang membuatnya tidak merasa bosan di Indonesia.

Pegunungan dengan udara yang sejuk

Grace lahir dan tumbuh diantara keluarga yang amat akrab dengan pegunungan. Keluarganya bisa disebut sebagai family mountain lover karena hobi mereka yang berhubungan dengan gunung seperti mendaki. Grace mengaku suka melihat binatang liar yang hidup di hutan pegunungan. Indonesia memiliki ratusan gunung yang khas dengan udara sejuk, dan pemandangan asri lengkap dengan hewan yang menjadikan pegunungan sebagai habitatnya. Hal ini pun membuat Grace semakin tertarik dengan trail running yang berlokasi di pegunungan sekaligus membuatnya betah tinggal di Indonesia.

“I definitely prefer muntains to road. The air is fresh and I love seeing the wild life in the mountains, except for snake.” ungkap Grace May kepada malasmikir.com.

Dapat menekuni kegemarannya seperti lari, mendaki, dan berenang

Pencapaian Grace dalam beberapa kejuaraan tentunya tidaklah mudah. Grace yang telah menekuni olahraga lari telah mempersiapkan diri dan berlatih dengan keras hingga dapat mengikuti beberapa kejuaraan trail running. Orang tua Grace bahkan mengajak perempuan yang lahir di Melbourne Australia ini mendaki gunung Kosciusk, Australia, saat Grace masih berusia 6 tahun. Grace pun mengaku setiap berlibur ia selalu teringat pendakian gunung Kosciusk bersama kedua orangtuanya dan membuatnya lebih bersemangat untuk mengikuti berbagai kompetisi dimana pun termasuk di Indonesia.

“Sentul Hill Trail Run 100km on Ausgust, 18th 2018.” jawabnya ketika ditanya kejuaraan apa yang akan diikutinya dalam waktu dekat.

 

Memiliki keluarga baru, Cirebon Runner

Pada masa-masa awal Grace tinggal di Indonesia, ia mengaku merasa rindu dan ingin pulang ke negara asalnya, Australia, lantaran tak bisa aktif dalam hobi yang digelutinya. Grace yang kala itu mengalami masalah dengan kulitnya yang mudah berjerawat memutuskan untuk absen dari dunia lari dan lebih banyak tinggal di rumah.

Namun, setelah setahun tinggal di Indonesia ia pun memutuskan untuk aktif kembali. Terlebih lagi Grace mendapat dukungan dari sang suami, Daniel, yang juga menekuni bidang yang sama dengannya. Grace pun mulai berlatih dan mengikuti beberapa balapan trail running hingga pada 2015 mendirikan Cirebon Runner bersama Daniel, Darso, Harry dan Dr Tommy.

” Then After doing a few races trail and road just with some hash friends. we ran into some other Cirebon based runners otw to Jakmar and started the Cirebon Runner Club. I began training more seriously as i really enjoyed it.”

Makanan bercita rasa pedas

Bertemu di Denmark karena tinggal di perumahan mahasiswa yang sama, Grace dan Daniel pun menikah pada tahun 2013 silam. Keduanya sama-sama menyukai makanan bercita rasa pedas. Nasi goreng khas Indonesia pun menjadi salah satu makanan favorit keduanya. Grace mengaku Daniel lah yang mengusulkan untuk pindah ke Indonesia. Ia juga mengatakan bahwa keduanya amat menyukai saus ekstra pedas buatan Indonesia.

Komentar on Facebook

Loading...
Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Back to top button
Close