BudayaCirebon

Batik Pewarna Alam Kriyan Barat Mulai Mendunia

Foto : batik pewarna alam

INFOCRB.COM, CIREBON.- Di Kota Cirebon tepatnya di Kampung Kriyan Barat Kecamatan Lemahwungkuk, geliat kerajinan batik terus meningkat.

Di Batik Story, warga sekitar belajar dan menekuni seni batik dengan pewarna alam, dibina oleh salah satu pelatih dari Pemangku Padepokan Alam Batik Kabupaten Pasuruan Jawa Timur.

Dimulai sejak tahun 2018 lalu, batik pewarna alam ini terus berkembang, bahkan terakhir karya batik ini dilirik oleh keluarga besar Kementrian Sekertariat Negara (Kemensesneg) Republik Indonesia.

Pengrajin batik yang juga Sekertaris Batik Story, Euis mengungkapkan, di pandemi Covid-19 ini, dirinya bersama pengrajin lain berinovasi dengan membuat batik bertemakan Corona dan dipasarkan melalui media sosial.

“Melalui medsos, batik motif Corona yang kami buat, dibeli oleh seorang Warga Negara Asing (WNA) Bosnia yang sedang tinggal di Indonesia, tepatnya di Bogor,” ungkap Euis.

Bule (WNA) itu, lanjut Euis, tertarik dengan batik motif corona, dengan warna yang terbuat dari Kayu Tegeran, warna kuning kecoklatan.

“Setelah pesan pertama, Bule itu kembali pesan untuk seragam, puluhan lembar, untuk perusahaannya dengan di beri logo perusahaan,” terang Euis.

Diketahui, Tanggal 2 Oktober Tahun 2009 ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional, hari ini, Jumat (2/10/2020) tepat 11 tahun.

Baca Juga:  Tahun 2020, Akan Ada Shelter Lagi Untuk PKL Jalan Cipto

Batik sendiri sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia, kain dengan motif khas ini harus terus dilestarikan.

Dalam memaknainya, batik itu bukan sekedar kain, batik merupakan budaya yang perlu dijaga. Hal tersebut diungkapkan Pemangku Padepokan Alam Batik, Fery Sugeng Santoso.

“Batik itu bukan hanya sekedar produknya (kain), tapi ada nilai yang lebih dalam yakni budayanya,” kata pria yang juga sebagai pelatih batik pewarna alam, Batik Story, Kriyan Barat Kota Cirebon.

Budaya batik, menurut Fery, di dalamnya terdapat ajaran-ajaran dan filosofi kehidupan, seperti membatik dengan alat canting itu jalannya harus ke depan, dari kiri ke kanan, itu memiliki nilai filosofi bahwa kehidupan ini harus berubah dari hal kurang baik menuju yang lebih baik.

“Membatik itu tidak asal, tapi ada tujuan pada diri dan kehidupan kita, bukan hanya bagi pembatiknya, tapi juga bagi orang yang memakainya, termasuk pewarnaannya,” ungkap Fery. (Pey)

Komentar on Facebook

Loading...
Tags

Artikel Terkait

Back to top button
Close