BudayaCirebon

Di Tengah Pandemi, Tradisi Tawurji dan Ngapem Digelar Terbatas

Foto : Tradisi ngapem di Keraton Kanoman

INFOCRB.COM, CIREBON.- Tradisi tawurji selamat dawa umur lan gampang rezeki merupakan bagian dari tradisi masyarakat Cirebon menjelang memasuki Maulid Nabi atau Bulan Maulid. Doa dan harapan selalu dipanjatkan dalam ritual kebudayaan yang diperingati setiap tahunnya oleh pihak Keraton Kanoman di Cirebon.

Jalannya prosesi acara Tawurji kali ini dilaksanakan secara tertutup yakni dilaksanakan di Kedato Keraton Kanoman

Sementara jalanya prosesi Ngapem berlangsung setelah dilaksanakanya tradisi Tawurji. Tradisi Ngapem juga dilaksanakan secara internal saja tanpa melibatkan
banyak pihak dan dalam jumlah orang yang terbatas, mengingat kondisi hari ini yang rawan akan penyebaran Covid-19

Tawurji adalah tradisi warisan budaya Sunan Gunung Jati yang diperingati setiap akhir bulan Syafar dalam penanggalan Jawa. Tepatnya setiap Rabu terakhir di bulan Syafar, sehingga tradisi itu dikenal pula sebagai Rebo Wekasan.

Tradisi itu digelar untuk mendoakan orang-orang yang mampu dan bagian dari sedekah. Seperti yang dilakukan keluarga Keraton Kanoman Cirebon, mereka mengundang warga sekitar dan membagikan uang receh

Juri bicara Kesultanan Kanoman Cirebon, Ratu Raja Arimbi Nurtina mengatakan tradisi ini sudah berlangsung sejak era wali songo. Tradisi ini pun sangat erat dengan pengaruh ajaran agama Islam dan misi Islamisasi ketika itu.

“Tradisi yang tidak bisa dilepaskan dari acara ritual di Keraton Kanoman, dan berlangsung sejak ratusan tahun lalu, di tahun ini tradisi ini berlangsung di tengah pandemi, dari itu kami laksanakan secara terbatas,” ungkapnya.

Dijelaskannya, tawurji merupakan bentuk shodaqoh berupa uang koin yang dibagikan secara massal kepada warga sekitarnya. Ngapem pun demikian, maknanya serupa dengan tawurji. Hanya saja, memakai media yang berbeda yakni dengan membagikan makanan atau kue apem yang disandingkan dengan gula merah.

Baca Juga:  Bangunan SMPN 2 Plumbon Ambruk, 14 Orang Luka-luka

“Tawurji asal kata dari tawur artinua melempar uang koin dan aji tuan haji atau orang mampu. Kalau apem terbuat dari tepung beras. Maknya keduanya sama yaitu shodaqoh,” jelasnya.

Dia menerangkan tradisi tersebut dilakukan dengan niatan sebagai upaya untuk menolak segala jenis mara bahaya atau musibah. Karena menurut cerita tradisi tawurji bermula dari upaya perlindungan murid-murid Syekh Lemah Abang yang dianggap sesat disertai nasin mereka yang terlunta-lunta, kemudian ditolong oleh Sunan Gunung Jati.

“Dengan memberikan uang koin sebagai bekal untuk bertahan hidup. Dan kejadiannya terjadi pada hari rabu terakhir Bulan Safar dan ketika itu juga berbarengan dengan adanya tradisi ritual di Bangsal Paseban Keraton Kanoman Cirebon dengan memanjatkan doa kepada Allah SWT dan tawasul kepada para wali dan leluhur raja-raja Kanoman,” terangnya.

Arimbi menambahkan tradisi ini diawali dengan berkumpulnya para pangeran dan abdi dalem di Pendopo Djinem sembari menunggu Sultan Kanoman XII Sultan Raka Muhammad Emirudin dari Kaputren. Sultan membawa satu kotak berisi koin-koin yang sudah didoakan kemudian dibagikan kepada warga dan abdk dalem yang sudah menunggu diluar.

“Didoakan dulu di Bangsal Paseban untuk meminta pertolongan agar dihindarkan dari musibah dan sebagainya. Lalu dibagikan secara sukarela,” pungkasnya. (Pey)

Komentar on Facebook

Loading...
Tags

Artikel Terkait

Back to top button
Close