BeritaKomunitas

Menilik Masa Lampau Dengan Belajar Aksara Kuna

INFOCRB.COM, CIREBON- Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Perguruan Tinggi Institut Agama Islam Negeri Syekh Nur Jati (HIPMI PT IAIN SENJA), dalam acara titik nol 2.0, menggelar kegiatan workshop literasi aksara kuna, Rabu (14/11).

Sebagai pemateri, Sinta Ridwan, memberikan kelas literasi kepada audiens yang antusias hadir di halaman kampus IAIN, jalan Perjuangan, kota Cirebon. Filolog jebolan Unpad itu menjelaskan, mengenal literasi masa lalu salah satunya yaitu dengan mengetahui aksara-aksara kuno yang hidup di zaman dulu.

“Alasan kenapa engga nyebut aksara Jawa, karena di Cirebon sendiri banyak aksara-aksara yang mampir. Dalam perkembangannya, semisal aksara Pegon (Aksara Arab yang dibaca dengan bahasa Cirebon), aksara Sunda kuna dan aksara Jawa kuna,” ujarnya dalam sesi workshop.

Perihal pemilihan aksara kuna sendiri, perempuan berambut panjang itu, menuturkan, selain fokus pada baca tulis, literasi bisa digalakan melalui pengenalan aksara. Alternatif sebelum ke pembahasan bahasa yang terlalu berat, salah satunya dengan mengajarkan penulisan aksara kuna.

“Bisa dibilang salah satu kunci melihat masa lampau, iya dengan belajar aksara kuna ini,” kata Sinta.

Menggali peradaban masa lalu lewat aksara kuna merupakan pekerjaan rumah (PR) bagi kita yang hidup di zaman sekarang, dengan tema “Merajut Cinta Budaya dengan Belajar Aksara Jawa”, korelasi antara budaya dan bahasa itu tak terpisahkan. Masih menurutnya, melalui aksara kuna kita bisa belajar sejarah masa lampau dengan membaca naskah-naskah kuna. “Contohnya, Aksara Sunda kuna itu peninggalannya masih ada, berupa prasasti di Bobos, itu salah satunya,” jelasnya.

Selain sebagai media pembelajaran perkembangan bahasa di Cirebon tempo dulu, dengan mengenal aksara kuna, mereka (peserta) bisa mengenal tahun-tahun aksara kuna digunakan oleh penutur, entah dikalangan elit ataupun rakyat jelata. “Dengan modal pengetahuan aksara kuna ini, paling ngga ada modal bagi mereka yang ingin tahu sumber langsungnya, kaya membaca naskah-naskah kuno,” lanjutnya.

Ke depan, menurut perempuan yang juga hadir dalam forum pertemuan 400 ahli dan pelaku budaya gagasan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud di Jakarta, ia berharap peserta yang hadir bisa membawa pulang semangat literasi di rutinitas dan lingkungannya.

“Membaca itu, kunci bagi seseorang yang ingin mempelajari banyak hal. Menambah pengetahuan dan wawasan, contohnya, melihat kesuksesan orang maupun mengenal karakter seseorang ya bisa lewat karya tulis,” pungkasnya. (Tgr)

Komentar on Facebook

Tags

Artikel Terkait

Lihat Berita Lainnya

Close
Back to top button
Close