Pemasok Bahan Makanan untuk Nakes Rugi Ratusan Juta, Ini Penjelasannya

oleh -44 views

Foto : Infocrbcom

INFOCRB.COM, CIREBON.- Dua pengusaha minta rekanan Kementrian Kesehatan untuk segera membayar kekurangan tagihan pembayaran. Surat pernyataan yang ditandatangani tak kunjung dipatuhi.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, dua pengusaha masing-masing asal Cirebon dan Purworejo meminta rekanan Kementrian Kesehatan untuk segera membayar tagihan kepada mereka. Kejadian berawal saat Aan Firdaus, warga Desa Tangkil, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon mendapat tawaran dari K dan suaminya, AK.

“Perusahaan milik pasangan tersebut, memenangkan tender untuk pengadaan makanan tambahan bagi tenaga kesehatan,” tutur Aan yang juga pemilik PD Aan Jaya Abadi, Jumat (17/9/2021).

Pasangan suami istri tersebut menawarkan kepada Aan untuk memasok bahan makanan tambahan untuk tenaga kesehatan 23 Oktober 2020 lalu. Akhirnya pasangan suami istri tersebut mendatangi gudang milik Aan dan memberikan uang muka sebesar Rp 50 juta. “Uang muka itu digunakan untuk membayar kacang tanah dan kacang tanah,” tutur Aan.

“Total ada 100 ton lebih yang terdiri dari kacang tanah dan kacang hijau yang dipasok Aan untuk perusahaan itu dengan nilai sekitar Rp 1,8 miliar,” imbuhnya.

Setelah menerima pembayaran uang muka, Aan pun menerima pembayaran lainnya. “Total sudah ada Rp 1,6 miliar lebih yang saya terima,” tutur Aan. Sedangkan kekurangannya, hingga kini belum terbayarkan.

Hal yang sama diungkapkan Khamdan Wibowo, Direktur CV PB Utama, Dukuh Wetan, Kelurahan Megulunglor, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo. “Saya menandatangani kerja sama dengan perusahaan subkon dari perusahaan milik suami istri tersebut,” tutur Khamdan.

Penandatanganan kontrak, dikatakan Khamdan, dilakukan pada 17 Agustus 2020 lalu dengan harga kacang hijau Rp 16.250 perkilogram.

Khamdan juga diminta untuk memasok kacang hijau untuk program yang sama, yaitu makanan tambahan untuk tenaga kesehatan. Pengiriman pertama dilakukan sebanyak 2,5 ton.
“Dibayar lunas,” tutur Kamdan.

Sedangkan pengiriman kedua yang dilakukan pada 18 September 2020 dilakukan sebanyak 34 ton namun baru dibayar Rp 245.250.000 pada 21 September 2020. Pembayaran dari perusahaan subkon tersebut hingga kini masih kurang Rp 307.250.000.

Baik Aan maupun Kamdan sudah berupaya untuk menagih langsung kekurangan pembayaran tersebut ke kantor dua perusahaan itu.

Khamdan bahkan sudah melayangkan somasi melalui pengacara hingga akhirnya perusahaan subkon membuat surat pernyataan bersedia membayar hutang mereka. Namun surat pernyataan pertama tak kunjung dipatuhi hingga akhirnya somasi kedua dilayangkan.

Pada somasi kedua, perusahaan tersebut kembali membuat surat pernyataan yang berisi akan membayar hutang mereka 6 termin. Namun hingga kini, pembayaran tersebut tak kunjung diterimanya.

Baik Aan maupun Khamdan mengaku merugi karena mereka harus menjual barang lainnya. “Terutama untuk membayar kepada petani. Kasihan mereka kalau tidak dibayar,” tutur keduanya.

Komentar on Facebook

Tentang Penulis M Hasan Hidayat

Gambar Gravatar
Pencari Berita Wilayah Cirebon Kota