BeritaBudayaCirebon

Ritual Siraman Panjang Jimat Dilakukan Hari Ini, Pelal Maulidan 9 November

Foto: Istimewa

Dilaksanakan setahun sekali. Piring-piring yang dicuci ini digunakan untuk peringatan maulid nabi atau panjang jimat nanti

INFOCRB.COM, CIREBON.- Ritual siraman panjang merupakan tradisi tahunan yang dilakukan setiap tanggal 5 rabiulawal menjelang hari perayaan mualid nabi pada Sabtu (9/10/2019) nanti atau biasa disebut pelal. Hal tersebut diungkapkan Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat usai pelaksanakan ritual siraman panjang, Senin (4/11/2019).

“Jadi, ini (pencucian) dilaksanakan setahun sekali. Piring-piring yang dicuci ini digunakan untuk peringatan maulid nabi atau panjang jimat nanti,” kata Arief.

Dikatakannya lebih lanjut, ritual tahunan pencucian piring-piring pusaka peninggalan Wali Songo yang digunakan untuk perayaan maulid atau ritual panjang jimat.

Pencucian piring pusaka dilakukan di ruangan Dalem Arum Keraton Kasepuhan Cirebon. Sebelum piring pusaka itu dicuci, keluarga keraton dan abdi dalem Keraton Kasepuhan melanuntan selawat dan membaca doa. Kemudian, piring pusaka, seperti sembilan piring besar, 40 piring kecil, dua guci dan dua gelas dicuci.

“Pada tahun ini, ada yang berbeda saat prosesi ritual siraman panjang, kalau tahun dal dan wawu itu sembilan piring tabsi (besar) ikut dicuci, nah tahun ini sembilan piring itu dicuci. Tahun kemarin hanya tujuh piring tabsi,” kata Arief.

Arief mengatakan prosesi ritual siraman panjang merefleksikan kondisi yang suci saat merayakan maulid. “Jadi setiap orang yang ingin beribadah dan melaksanakan sesuatu itu harus bersuci dulu. Mengawali peringatan nabi, kita harus bersuci dulu,” ucap Arief.

Usai ritual siraman panjang, masyarakat dari berbagai daerah yang menyaksikan ritual tersebut langsung menyerbu air, yang digunakan untuk mencuci piring pusaka. Mereka saling dorong berebut air. Ada juga yang langsung mandi.

Saat ditanya mengenai animo masyarakat yang rela saling dorong berebut air pencucian siraman panjang, Arief mengatakan masyarakat meyakini air bekas pencucian piring pusaka itu memiliki berkah. Sebab, sebelum ritual para keluarga keraton dan abdi dalem melantunkan selawat dan doa. Selain itu, piring-piring pusaka tersebut memiliki ukiran kaligrafi.

“Sebagai perantaranya (air pencucian panjang jimat). Mereka meyakini bahwa air tersebut bisa membawa berkah. Piring ini usianya sekitar 700 tahunan. Peninggalan Wali Songo. Jadi, ini termasuk hasanah kebudayaan yang harus kita lestarikan,” pungkasnya. (Agi)

Komentar on Facebook

Loading...
Tags

Artikel Terkait

Back to top button
Close