BudayaCirebon

Sejarah Kayu Mati Buyut Perbatang, Bekas Tempat Duduk Raden Walangsungsang

Foto : Tim Infocrbcom

Pengangkatan kayu tersebut, diiringi shalawat dan adzan

INFOCRB.COM, CIREBON.- Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW (muludan) di Desa Kertawinangun Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon (muludan Tuk), terbilang mempunyai keunikan tersendiri. Sebab pada puncak acara muludan di desa tersebut digelar tepatnya sepekan setelah pelal ageng muludan Kasepuhan dan Kanoman yang digelar pekan lalu, Minggu (17/11/2019).

Di muludan Tuk dilakukan pengangkatan buyut kayu perbatang, Pangeran Mancur Jaya, sebuah pusaka yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat.

Juru pelihara merangkap juru kunci situs Balong Keramat Pangeran Mancur Jaya, Raden Suparja, mengatakan, puncak acara muludan alias pelal di Desa Kertawinangun, diperingati setiap tanggal 19 Rabiul Awal, atau sepekan setelah puncak muludan di Keraton Kanoman dan Kasepuhan Cirebon.

Menurutnya, muludan tahun ini di situs Pangeran Mancur Jaya sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena pada tahun ini semua keluarga besar keraton baik Kanoman maupun Kasepuhan turut berpatisipasi melalui moril maupun meteril, selain pihak keraton, lanjutnya, pada tahun ini ada kerjasama yang baik dari seluruh lapisan masyarakat, mulai dari organisasi masyarakat, komunitas masyarakat Cirebon dan lebih khusus kerjasama dengan laskar Macan Ali Cirebon.

“Alhamdulillah tahun ini baik dari kasultanan cirebon, komunitas masyarakat Cirebon, juga pemerintahan setempat dan masyarakat sekitar semuanya ikut bersama-sama, artinya pada tahun ini muludan di balong kramat pangeran mancur jaya ini betul-betul sangat antusias dan meriah,” ujar Raden Parja sapaan akrabnya.

Dalam kesempatan tersebut, Raden Parja berharap, masyarakat sekitar terutama pemuda dan pemudi sebagai penerus sesepuh nanti, agar tetap dapat menjaga cagar budaya peninggalan nenek moyang, karena menutnya, kalau tidak ada pelestarian dan dibiarkan maka sejarah di masa yang akan datang akan musnah sia-sia, itu yang tidak diharapkan orang-orang terdahulu.

“Untuk masyarakat sekitar dan pemuda pemudi, agar terus mengikuti ritual-ritual bersejarah seperti ini, saya berharap jangan sampai adat istiadat ini tidak terawat dan terlebih punah, jadi untuk muda-mudi mari bersama-sama untuk merawat benda cagar budaya,” ungkapnya.

Raden Parja menjelaskan, ritual pengangkatan kayu keramat Pangeran Mancur Jaya, dimuai dengan pembacaan shalawat Nabi. Setelah di kumandangkan adzan oleh seorang muadzin, tujuh orang kemudian menyelam ke dasar balong keramat untuk mengangkat kayu tersebut. Kayu berukuran panjang kurang lebih dua meter tersebut kemudian di terima oleh empat orang, lalu di mandikan dengan air kembang dan kemenyan. Setelah di mandikan, kayu tersebut di kafani dan di semayamkan layaknya jenazah manusia.

“Ratusan warga berbaur dengan pengunjung yang datang dari berbagai daerah seperti Indramayu, Majalengka, dan Kuningan, bahkan dari Bandung dan Jakarta memadati jalanan menuju lokasi balong keramat,” ujarnya.

Mereka datang ke persemayaman kayu keramat sambil nyekar atau menaburkan bunga sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur. Masyarakat  setempat meyakini kayu peninggalan Wali tersebut, mengandung karomah dan memiliki beberapa keistimewaan. Salah satunya, kayu tersebut setiap tahun panjangnya selalu berubah. Selain itu kayu tersebut memiliki sifat-sifat seperti layaknya manusia.

Dijelaskan Raden Suparja, Pangeran Mancur Jaya menemukan kayu perbatang pada pukul sembilan tanggal 19 Rabiul Awal. Kayu tersebut adalah bekas tempat duduk Raden Walangsungsang ketika bertapa, yang di temukan Pangeran Mancur Jaya ketika ia di perintahkan pihak Keraton untuk mencari sumber air kala terjadi kekeringan panjang di wilayah Cirebon.    

“Ketika Pangeran menghentakan kayu tersebut ke tanah, memancarlah air dari sela-sela tanah. Benturan kayu menimbulkan bunyi “tuk”sehingga desa tersebut  kemudian dinamakan desa tuk,” kata Raden Parja.

Percikan air dari balong keramat yang dipakai untuk memandikan kayu tersebut, dipercaya dapat memberikan aura yang tertutup dan membuang kesialan. Sehingga ratusan orang berebut air keramat tersebut, tak terkecuali anak-anak kecil.

Setelah dimandikan dan dikafani, buyut kayu perbatang Pangeran Mancur Jaya, selanjutnya diletakan kembali ke dalam balong, setelah melalui suatu prosesi yang di awali dengan arak-arakan panjang jimat pada pukul 20.00 WIB.

Berbagai benda pusaka peninggalan Pangeran Mancur Jaya, Pangeran Jaka Tawa, dan Pangeran Matang Aji, seperti pusaka si kober, trisula, golok warangan, pendil sewu dan pusaka lainnya yang berjumlah 17 buah di arak keliling desa. Ribuan warga dari berbagai tempat datang untuk mengikuti atau sekedar menyaksikan ritual tahunan tersebut. Sejumlah warga tampak melakukan tabur bunga dan melemparkan uang receh ke arah benda-benda keramat tersebut.

Sementara itu, salah seorang pengunjung situs pangeran Mancur Jaya, Melia mengatakan, dirinya sengaja datang ke situs, untuk melihat kayu keramat, dirinya mengaku, rutin setiap tahun datang ke Muludan Tuk, meneruskan apa yang biasa orang tuanya lakukan setiap bulan Mulud, khususnya ke Situs Mancur Jaya.

“Saya setiap tahun ke Muludan Tuk, meneruskan orang tua yang selalu ke sini, kata orang tua air basuhan kayu keramat balong tuk ada keberkahan, itu aja Mas,” ungkapnya. (Agi)

Komentar on Facebook

Loading...
Tags

Artikel Terkait

Back to top button
Close