CirebonVirus Corona

Selama Pandemi, Trend Angka Kehamilan di Kota Cirebon Menurun

Foto : dr Sri Laelan Erwani

INFOCRB.COM, CIREBON.- Dinas kesehatan menyebut angka kehamilan selama masa pandemi Covid-19 di Kota Cirebon mengalami penurunan jika dibanding dengan periode sebelumnya, dari data yang ada, bahkan angka kehamilan pada triwulan pertama lebih tinggi dibanding pada saat masa pandemi Covid-19 di Kota Cirebon sejak bulan April hingga Juni 2020 berjalan. Hal tersebut dikatakan oleh Plt Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Cirebon, dr Sri Laelan Erwani.

“Meski di sejumlah daerah terjadinya peningkatan kehamilan selama masa pandemi Covid-19, namun hal itu tidak terjadi di Kota Cirebon, hingga pelaporan bulan Juni lalu masih sesuai dengan target angka kehamilan kita,” ungkap dr Laelan.

Data mengenai trend kehamilan, lanjut dr Laelan, setiap bulannya selalu berubah, dan ketika dibandingkan dengan tahun lalu, trend kehamilan di triwulan pertama dan triwulan kedua tahun 2020 cenderung mengalami penurunan.

Dari jumlah sasaran sebanyak 5713, kata dia, saat ini angka kehamilan bulan Januari sampai Juni sudah mencapai angka 2740, sementara selama pandemi Covid-19, terhitung April hingga Juni tercatat ada sebanyak 1219, angka ini cenderung menurun dibanding tahun lalu dengan jumlah sasaran sebanyak 5834, dengan angka kehamilan semester pertama 2974.

Baca Juga:  Water Treatment, Cara E-team Jernihkan Kembali Air Dampak Limbah Batu Alam

“Jika menurut data, dibanding tahun lalu ya angkanya menurun,” ujar dr Laelan.

Rata-rata peningkatan angka kehamilan yang terjadi dan terdata di rumah sakit khusus ibu dan anak, dijelaskan Laelan, diduga lantaran banyaknya pasien dari luar daerah yang datang untuk memeriksakan kandungan di rumah sakit khusus ibu dan anak yang ada di Kota Cirebon, sedangkan angka yang masuk data Dinkes hanya warga Kota Cirebon saja.

“Karena khawatir jika di rumah sakit umum bercampur dengan pasien Covid 19, jadi banyaknya ke RSIA,” jelas Laelan.

Ditambahkan dr Laelan, data kehamilan ini didapat dari kader dilapangan, meskipun si pasien tidak melaporkan atau memeriksa ke puskesmas, tetap ada kader siaga yang melakukan survey ke lapangan untuk melakukan pendataan.

“Sehingga meski tidak ada data di puskesmas, ada data penunjang dari kader, di setiap kampung atau perumahan,” kata dr Laelan. (Pey)

Komentar on Facebook

Loading...
Tags

Artikel Terkait

Back to top button
Close