Budaya

Tradisi Tawurji Masyarakat Cirebon Menyambut Maulid Nabi

INFOCRB.COM, CIREBON- Tradisi tawurji selamat dawa umur lan gampang rezeki merupakan bagian dari tradisi masyarakat Cirebon menjelang memasuki Maulid Nabi atau Bulan Maulid. Doa dan harapan selalu dipanjatkan dalam ritual kebudayaan yang diperingati setiap tahunnya oleh pihak Keraton Kanoman di Cirebon.

Tawurji adalah tradisi warisan budaya Sunan Gunung Jati yang diperingati setiap akhir bulan Syafar dalam penanggalan Jawa. Tepatnya setiap Rabu terakhir di bulan Syafar, sehingga tradisi itu dikenal pula sebagai Rebo Wekasan.

Tradisi itu digelar untuk mendoakan orang-orang yang mampu dan bagian dari sedekah. Seperti yang dilakukan keluarga Keraton Kanoman Cirebon, mereka mengundang warga sekitar dan membagikan uang receh. Tak sedikit warga berebut uang receh. Warga meyakini yang mendapat uang receh tersebut mendapat barokah.

“Uang yang disurakin didoakan dulu sama keraton. Insya Allah masyarakat mendapat barokahnya,” kata Nurul salah satu warga Kanoman, Rabu (07/11).

Sementara itu, Sultan Keraton Kanoman, Sultan Saladin melalui Ratu Mawar mengatakan tradisi tawurji bukan hanya sebatas tradisi. Acara adat tersebut menyimpan sejarah yang belum diketahui banyak orang dimana Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga mempersilakan santri Syekh Siti Jenar untuk mencari dana dengan mendoakan orang lain yang punya uang.

“Tradisi ini merupakan bentuk syukur kami karena terus diberikan kesehatan dan keselamatan baik Keraton maupun masyarakat” kata Mawar

Mawar menjelaskan, tawurji digelar setiap akhir bulan Syafar dalam kalender Jawa. Tawurji, juga bisa diartikan menebar barokah kepada warga sekitar dengan bersedekah. Dahulu, kata Mawar, tradisi tawurji hanya dilakukan di internal keluarga keraton. Namun saat ini, tradisi tawurji melibatkan masyarakat luas.

“Tawurji juga bagian dari menolak bala atau tolak sial. Karena bulan Syafar identik dengan bulan sial dan bahaya,” ujarnya.

Pada akhir bulan Syafar, lanjut Mawar, diyakini sebagai bulan yang penuh sial. Biasanya, cobaan dan bencana alam datang pada setiap akhir bulan Syafar. “Dipunahkannya dengan kue apem yang diyakini sebagai penolak bala,” tuturnya

Senada Pengeran Patih Amaludin mengatakan tawurji sudah berjalan setiap tahun dimana disebut dengan Rebo Wekasan yang artinya hari Rabu terakhir di bulan safar dan beranjak bulan mulud.

”Kita bersyukur terus diberi kesehatan keselamatan. Tawurji berbagi kepada saudara kita semua sekeliling keraton kanoman,” kata Amaludin

Masih kata Amaludin, Tawurji itu berbagi dalam bentuk surak agar sesama umat islam merasa bersyukur terakhir bulan safar masih dikasih keselamatan dan kesehatan. Menurutnya, tidak ada ritual khusus, namun hanya sebuah niat saja melakukan sesuatu rasa kebersamaan dan bersyukur dengan masyarakat sekitar.

”Rabu pertama biasanya apeman sampai pertengahan, dan terakhir surak,” pungkasnya. (Omo)

Komentar on Facebook

Loading...
Tags

Artikel Terkait

Back to top button
Close